MBAH SYA’RONI GO TO MAZDA

mbah sya\'roni achmadiYayasan Mazro’atul Huda Karanganyar yang menaungi dua lembaga pendidikan yakni MTs Mazro’atul Huda Karanganyar dan MA Mazro’atul Huda Karanganyar kembali mengadakan muwadda’ah akhirussanah. Kali ini nuansa memang lain dari pada biasanya. Karena muwadda’ah yang biasanya diselenggarakan setelah pengumuman kelulusan, kali ini diadakan sebelum pengumuman kelulusan dari Dinas Pendidikan Nasional.

Akan tetapi nilai kesakralan dari kegiatan ini bertambah, ketika acara ini juga diselenggarakan do’a bersama agar nantinya MTs dan MA Mazro’atul Huda Karanganyar dapat lulus 100% serta para alumni (lulusan MA Mazro’atul Huda Karanganyar) memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Dalam acara ini juga dimeriahkan oleh KH. Sya’roni Ahmadi dari Kudus, yang merupakan tokoh idola masyarakat muslim di kawasan Kecamatan Karanganyar Kabupaten Demak. Dalam acara tersebut KH. Sya’roni Ahmadi yang lebih akrab dipanggil Mbah Sya’roni memberikan tauzi’ah yang bertajuk kekompakan madrasah dan bertanyalah ketika mengalami kesulitan dalam belajar.

Di awal mauidlohnya, Mbah Sya’roni mencontohkan permainan sepak bola. Brazil yang merupakan langganan juara dunia sepak bola menjadi gambaran bagi kekompakan. Mbah Sya’roni menggambarkan kemenangan Brazil dalam ajang sepak bola dunia selalu diawali dengan kata kekompakan. Bahkan kegagalan Brazil dalam sepak bola pun karena ketidakkompakan para pemain maupun pelatih. Seperti perseteruan antara Ronaldo dan Ronaldinho. Begitu pula maju dan berhasilnya suatu madrasah juga harus dilandasi kebersamaan dan kekompakan antara komponen madarasah, yaitu antara pengurus, guru, orang tua / wali murid, dan para siswa. Sehingga setelah terwujud kekompakan maka insya Allah semua kegiatan dan program madrasah akan berjalan dengan lancar.

Dalam acara tersebut juga digambarkan bagaimana akal yang digunakan untuk menggambarkan suatu hukum dapat menjadikan rusaknya suatu amal ibadah. Kali ini Mbah Sya’roni menggambarkan seorang santri yang bernama Dul Karim yang menggunakan nalar atau akalnya untuk melakukan pengambilan keputusan terhadap suatu keadaan.

Ceritanya ketika Dul Karim suatu sore belajar sama Mbah Modin, dia mendapatkan pelajaran bagaimana caranya berwudlu. Seusai dijelaskan tata cara berwudlu yang benar Dul Karim bertanya kepada Mbah Modin bagaimana kalau yang berwudlu hanya memiliki satu kaki, maka Mbah Modin menjelaskan kalau hanya satu kaki ya dibasuh satu kaki kalau gak punya kaki ya… gak usah membasuh kaki.

La… ujung-ujungnya ketika pulang, gerimis datang, kemudian dia diminta temannya yang bernama Ahmad untuk mampir ke rumahnya agar dapat sholat maghrib berjama’ah. La… alih-alih berwudlu, Dul Karim ketika melihat tempat wudlunya Ahmad yang beruma Padasan (pancuran) Dul Karim malah asyik bermain sampai-sampai tak terasa air dalam padasan tinggal sedikit. Ketika Dul Karim sedang berwudlu, sampai membasuh kakinya yang kiri airnya habis, mau mengambil air dari sumur tempatnya licin, ya.. Dul Karim yang telah menerima pelajaran dari gurunya (Mbah Modin) memutar otaknya untuk mendapatkan cara jitu. Akhirnya ketika ia sholat bersama Ahmad ia dijadikan Imam, ketika takbir … kaki kiri Dul Karim diangkatnya ke atas, sampai dengan terakhir takhiyyat. Ketika tahiyat punggung Dul Karim digigit nyamuk dan kalau dipukulnya dengan tangan kiri gak sampai. Akhirnya dia memutuskan memukulnya dengan tangan kanan. Tetapi bagaimana dengan posisi telunjuknya tangan kanan yang semestinya harus diacungkan ke depan. Ya…. kembali Dul Karim memindahkan posisi tangan kirinya ke sebelah kanan. Akhirnya … jadi berabe lah sholat Dul Karim.

Semestinya ketika kita menemukan hal yang belum kita ketahui, sebaiknya kita bertanya pada ahlinya atau kepada guru kita yang lebih mengerti tentang hal ikhwal tersebut. Tidak lantaran kita punya akal kita putar akal kita untuk menemukan cara jitu dalam memecahkan masalah tersebut.

Ok… tunggu episode MAZDA berikutnya… salam……

Tanggapi posting ini