Yuuuhuuuu….. Kupatan Yuuu…..k….

Hari raya Idul Fitri memberikan suasana yang berbeda. Meriahnya pun dirasakan baik kalangan bawah sampai dengan kalangan atas. Takbir, tahmid dan tahlil berkumandang di seluruh penjuru tanah air. Dari Sabang sampai Merauke berkumandang untuk kebesaran Ilahi Rabbi. Diringi tabuhan Bedug dan rebana ditabuh dari anak kecil, pemuda bahkan orang tua untuk menunjukkan suka cita di hari nan fitri itu.

Nah… ada juga yang unik dari tradisi tahunan ini. Pada hari raya ke-8 di bulan Syawal di daerah Demak, Kudus, Jepara dan sekitarnya terdapat tradisi yang cukup unik yaitu hari raya Kupatan. Pada hari raya Kupatan ini, diadakan tasyakuran dengan sajian utamanya berupa ketupat dan lepet. Dua jenis makanan ini menandakan permohonan ma’af antara sesama.

Setelah tasyakuran Kupatan di pagi hari, banyak diantara warga yang jalan-jalan liburan ke berbagai tempat wisata. Di Kudus biasanya dipusatkan di daerah Bulusan, Kecamatan Jekulo. Di daerah ini para wisatawan berkumpul untuk merayakan hari raya Kupat dengan mengunjungi kolam bulusan (bulusan = bulus = kura-kura). Daerah ini dinamakan bulusan karena dahulu kala terdapat cerita yang cukup unik. Singkat cerita ketika Sunan Muria akan pergi ke daerah Pati melewati sebuah hutan dan perkampungan serta persawahan. Setibanya di wilayah persawahan daerah Jekulo, Sunan Muria mendengar suara krubyak-krubyuk di tengah malam seperti suara kura-kura yang sedang berenang. Dan Sunan Muria mengatakan kok ada kura-kura berenang di tengah malam. Padahal suara krubyak-krubyuk itu berasal dari petani yang sedang ndaut (mencabut benih padi untuk ditanam). Maka orang-orang itu berubah menjadi bulus atau kura-kura. Sepulang dari wilayah Pati, Sunan Muria melewati daerah itu lagi, dan para bulus sudah menghadang Sunan Muria untuk meminta maaf karena di tengah malam telah bertingkah yang kurang baik. Maka ketika itu pula Sunan Muria memaafkan mereka dan menancapkan tongkat di tanah yang kemudian memancarkan air dan berubah menjadi sebuah blumbang (kubangan air) sehingga para bulus dapat tinggal di sana. Seterusnya daerah itu dinamakan Bulusan.

Lain pula di wilayah Jepara, kegiatan Kupatan dipusatkan di wilayah Pantai Kartini dan Pantai Bandengan. Di daerah ini tentunya lebih meriah karena merupakan daerah wisata yang sudah cukup terkenal. Antrian panjang untuk memasuki wilayah wisata ini tak dapat terelakkan lagi. Muda-mudi bahkan orang tua dan anak-anak memadati wilayah ini untuk sekedar mengisi liburan dengan hiburan pantai. Kegiatan ini sudah menjadi agenda tahunan Pemkab Jepara untuk lebih mempromosikan kabupaten Jepara yang selain terkenal dengan seni ukiran juga tak kalah pula dengan wisata bahari di daerah Pantai Kartini dan Pantai Bandengan.

Dari Pantai Kartini maupun Pantai Bandengan, wisatawan juga dapat menuju ke sebuah pulau yang cukup eksotik, yaitu Pulau Panjang. Hanya dengan kurang lebih 20 menit perjalanan dengan perahu, wisatawan sudah sampai di Pulau Panjang. Walaupun agak disayangkan pulau ini yang dulunya banyak dihuni burung-burung laut, kini telah berkurang drastis. Ya… biasa … tangan-tangan jahil manusia emang tidak dapat dipungkiri lagi. Semoga saja, manusia sadar kembali akan kelestarian dan keindahan alam.

Akhir kata Selamat Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Kupatan 1429 H Mohon Ma’af Lahir dan Batin ….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s